TEORI BELAJAR DALAM DESAIN SISTEM PEMBELAJARAN ONLINE LEARNING 2

C. Implementasi Teori Belajar dalam Kawasan Teknologi Pembelajaran

Implementasi Teori Belajar sebagai Paradigma Online Learing sebagaimana dideskripsikan dalam artikel di atas, dilihat dari perspektif bidang ilmu Teknologi Pembelajaran berada pada kawasan pertama, yaitu kawasan Desain, lebih fokus lagi pada sub kawasan Desain Sistem Pembelajaran (DSP). Teknologi pembelajaran memiliki lima kawasan yang menjadi bidang garapnya, baik sebagai objek formal maupun objek materinya, yaitu desain, pengembangan, pemanfaatan, pengolahan, evalusi sumber dan proses belajar. Oleh karenanya aplikasi teknologi pembelajaran juga tidak terlepas dari lima kawasan tersebut.
Seels dan Richey (1994: 122) menjelaskan bahwa demi menjaga keutuhan definisi (teknologi pembelajaran. pen.) kegiatan-kegiatan dalam setiap kawasan teknologi pembelajaran dapat dikaitkan baik kepada proses maupun sumber pembelajaran. Seels dan Richey juga membuat gambar tentang hubungan antara kawasan dan kegiatan dalam bidang sebagai berikut:



Gambar: Hubungan antara Kawasan dan Kegiatan dalam Bidang

Desain Sistem Pembelajaran (DSP) adalah prosedur yang terorganisasi yang meliputi langkah-langkah: 1) penganalisaan, yaitu proses perumusan apa yang akan dipelajari; 2) perancangan, yaitu proses penjabaran bagaimana hal tersebut akan dipelajari; 3) pengembangan, yaitu proses penulisan dan pembuatan atau produksi bahan-bahan pembelajaran; 4) pelaksanaan, yaitu pemanfaatan bahan dan strategi yang bersangkutan; dan 5) penilaian, yaitu proses penentuan ketepatan pembelajaran (Seels dan Richey, 1994: 33).

1. Pendekatan Desain Sistem Pembelajaran
Langkah dalam Desain Sistem Pembelajaran (DSP) yang pertama adalah merumuskan materi yang akan dipelajari siswa. Perlu dirumuskan aspek-aspeknya. Pertama, apa saja materinya, apakah bersifat kognitif, afektif atau psikomotorik, berapa porsinya, dan sebagainya. Kedua, bagaimana metode instruktur dalam media Online Learning dalam proses pembelajarannya, prasyarat apa saja yang perlu diberikan kepada siswa dan sebagainya. Ketiga, sarana tambahan apa yang perlu diberikan. Keempat, lingkungan maya yang bagaimana yang diperlukan untuk mendukung pelajaran tersebut.

2. Aspek Strategi Pembelajaran
Aspek ini pada dasarnya adalah menjawab bagaimana materi Online Learning tersebut dipelajari. Pada aspek inilah teori belajar mempunyai peran yang sangat signifikan. Ide-ide dalam artikel di atas dapat diimplementasikan pada perancangan aspek Strategi Pembelajaran ini.

3. Aspek Desain Bahan Pembelajaran
Langkah ketiga dalam Mendesaian Sistem Pembelajaran adalah pengembangan, yaitu proses penulisan dan pembuatan atau produksi bahan-bahan pembelajaran. Proses penulisan bahan pembelajaran harus memperhatikan hal-hal berikut:

a. Kejelasan tujuan pembelajaran (realistis dan terukur);
b. Relevansi tujuan pembelajaran dengan Kurikulum/SK/KD;
c. Ketepatan penggunaan media yang sesuai dengan tujuan dan materi pembelajaran;
d. Kesesuaian materi, pemilihan media dan evaluasi (latihan, test, kunci jawaban) dengan tujuan pembelajaran;
e. Sistematika yang runut, logis, dan jelas;
f. Interaktivitas;
g. Penumbuhan motivasi belajar;
h. Kontekstualitas;
i. Kelengkapan dan kualitas bahan bantuan belajar;
j. Kejelasan uraian materi, pembahasan, contoh, simulasi, latihan;
k. Konsistensi evaluasi dengan tujuan pembelajaran;
l. Relevansi dan konsistensi alat evaluasi;
m. Pemberian umpan balik terhadap latihan dan hasil evaluasi.

Proses pemanfaatan bahan dan strategi tersebut harus memperhatikan hal-hal berikut:
a. Efektif dan efisien dalam pengembangan maupun penggunaan media pembelajaran;
b. Reliabilitas (kehandalan);
c. Maintainabilitas (dapat dipelihara/dikelola dengan mudah);
d. Usabilitas (mudah digunakan dan sederhana dalam pengoperasiannya);
e. Ketepatan pemilihan jenis aplikasi/software/tool untuk pengembangan;
f. Kompatibilitas (media pembelajaran dapat diinstalasi/dijalankan diberbagai hardware dan software yang ada);
g. Pemaketan program media pembelajaran terpadu dan mudah dalam eksekusi;
h. Dokumentasi program media pembelajaran yang lengkap meliputi: petunjuk instalasi (jelas, singkat, lengkap), trouble shooting (jelas, terstruktur, dan antisipatif), desain program (jelas dan menggambarkan alur kerja program);
i. Reusabilitas (sebagian atau seluruh program media pembelajaran dapat dimanfaatkan kembali untuk mengembangkan media pembelajaran lain).

4. Aspek Pemanfaatan Bahan
Selain harus memperhatikan aspek-aspek di atas, langkah pemanfaatan juga dapat menggunakan komunikasi visual sebagai strategi pembelajaran, dengan memperhatikan hal-hal berikut:
a. Komunikatif: visualisasi mendukung materi ajar, agar mudah dicerna oleh siswa;
b. Kreatif: visualisasi diharapkan disajikan secara unik dan tidak klise (sering digunakan), agar menarik perhatian;
c. Sederhana: visualisasi tidak rumit, agar tidak mengurangi kejelasan isi materi ajar dan mudah diingat;
d. Unity: menggunakan bahasa visual yang harmonis, utuh, dan senada, agar materi ajar dipersepsi secara utuh (komprehensif);
e. Penggambaran objek dalam bentuk image (citra) yang representatif;
f. Pemilihan warna yang sesuai, agar mendukung kesesuaian antara konsep kreatif dan topik yang dipilih;
g. Tipografi (font dan susunan huruf), untuk memvisualisasikan bahasa verbal agar mendukung isi pesan, baik secara fungsi keterbacaan maupun fungsi psikologisnya;
h. Tata letak (lay-out): peletakan dan susunan unsur-unsur visual terkendali dengan baik, agar memperjelas peran dan hirarki masing-masing unsur tersebut;
i. Unsur visual bergerak (animasi dan/atau movie), animasi dapat dimanfaatkan untuk mensimulasikan materi ajar dan video untuk mengilustrasikan materi secara nyata;
j. Navigasi (icon) yang familiar dan konsisten agar efektif dalam penggunaannya.

5. Penilaian, Umpan Balik dan Perbaikan Terus Menerus
Langkah kelima dalam mendesain sistem pembalajaran adalah penilaian, yaitu proses penentuan ketepatan pembelajaran. Setiap bab menyajikan rangkuman/kesimpulan dan atau soal latihan untuk mengukur keberhasilan belajar peserta didik dan sekaligus mengevaluasi ketepatan strategi pembelajaran. Penilaian ini mutlak dilakukan sebagai sistem manajemen mutu dan pengendalian proses belajar mengajar sehingga terjadi umpan balik dan perbaikan secara terus menerus (continous improvement).

D. Kesimpulan
Dalam mereview artikel ini, pereview berusaha mengkaitkan dengan isi artikel dengan konteks Teknologi Pembelajaran sebagai suatu bidang Ilmu. Hal ini untuk membangun komitmen keilmuan dan struktur berpikit yang konsisten dengan Bidang Keilmuan.
Dari hasil pembahasan di atas, pereview menemukan bahwa Teori Belajar sebagai Paradigma Online Learning berada pada kawasan Desain, yaitu kawasan pertama di antara lima kawasan Teknologi Pembelajaran. Lebih khusus, implementasi dari hal teori belajar ini berada pada subkawasan Desain Sistem Pembelajaran (DSP).


DAFTAR PUSTAKA

Seels, Barbara B. & Richey, Rita C. 1994. Teknologi Pembelajaran: Definisi dan Kawasannya. Penerjemah Dewi S. Prawiradilaga dkk. Jakarta: Kerjasama IPTPI LPTK UNJ.

Terry Anderson & Fathi Elloumi (Eds.). 2004. Theory and Practice of Online Learning. Canada. Athabasca University.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar